Jeritan Korban Angin Puting Beliung Warga Harapan Indah

  • Share

SUDAH hampir lima bulan sejak kejadian angin puting beliung yang menghantam wilayah RW 20 Harapan Indah Bekasi, tepatnya 26 Februari 2021 lalu, bantuan perbaikan rumah yang dijanjikan pihak Pertamanan dan Pemukiman Kota Bekasi belum juga diterima para korban.

Bahkan beberapa korban yang rumahnya rusak sudah membuka rekening di Bank BJB sesuai arahan Lurah Pejuang dengan setoran awal Rp50ribu. Sekarang, dana setoran awal tersebut sudah habis dipotong administrasi, dana penggantian belum juga diterima.

Selasa (27/7/2021), Tabloid Harapan Indah mewawancarai beberapa korban angin puting beliung yang menghantam wilayah RW 20 Harapan Indah.

Dengan menahan tangis, Christina Mangastuti, warga RT07 menuturkan kejadian tersebut.
“Tiga hari sebelumnya saya sempat memindahkan posisi tempat tidur saya ke dekat jendela. Saat kejadian malam itu, sebelumnya terdengar suara gemuruh dan petir. Tiba-tiba air hujan dan batu masuk dari atap kamar yang jebol dan jatuh menimpa daerah tempat tidur yang lama. Saya sempat nggak bisa bergerak karena kaget sampai akhirnya pelan-pelan berusaha keluar dari kamar yang sudah basah air hujan dan penuh batu serta gelap karena listrik mendadak padam. Pintu juga susah dibuka karena terganjal reruntuhan. Untung batu-batu itu nggak ada yang menimpa kepala,” ujarnya.

Setelah kejadian, dalam keadaan bingung Christina menghubungi pengurus Rukun Tetangga (RT) dan diminta mengungsi ke tempat yang aman. Sekitar jam 08.00 pagi datang petugas dari kelurahan meninjau kondisi rumahnya yang porak-poranda dan lebih dari setengahnya atap dan tembok sudah hancur. Selang beberapa jam datang petugas dari Dinas Pertamanan dan Pemukiman Kota Bekasi membuat perkiraan biaya kerusakan.
“Setelah kejadian, sudah dua orang yang datang dan janji mau diperbaiki. Bahkan saya sudah membuka rekening di Bank BJB sesuai arahan petugas Rukun Warga (RW). Kenyataannya sampai detik ini belum ada juga dana yang masuk, bahkan uang setoran awal waktu pembukaan rekening sebesar Rp50ribu sudah habis dipotong untuk administrasi bank tiap bulan, ” isak Christina.

Ibu tunggal dari seorang anak perempuan kelas tiga SMU ini akhirnya harus berutang ke sana ke mari untuk memperbaiki rumahnya.
“Saya pinjam ke keluarga sekitar Rp15juta untuk perbaikan atap dan tembok rumah yang hancur. Nggak apa-apa darurat dulu deh, yang penting saya dan anak saya aman dulu. Saya nggak tau kapan bisa melunasinya”, lagi-lagi Christina terisak.
Christina yang sebelum pandemi ini berjualan di kantin sekolah tempat anaknya belajar harus tutup seiring kebijakan pemerintah yang meminta pelajar dan mahasiswa belajar melalui daring. Kini dia berusaha menghidupi anak semata wayangnya dengan berjualan makanan beku melalui online.
“Saya berharap janji dari pejabat pejabat yang datang bahwa akan ada penggantian, bisa segera direalisasikan supaya saya bisa membayar utang saya. Hasil penjualan makanan beku kan nggak besar, ditambah lagi untuk bayar hutang. Jadi sekali lagi saya mohon agar janji perbaikan rumah dari pihak terkait bisa segera dilaksanakan, karena sudah lima bulan belum ada perkembangan apapun, ” tutup Christina.

Tidak jauh beda dengan Christina, Purwati yang masih berduka karena dua bulan sebelumnya suami Purwati meninggal dunia, mengalami hal yang sama. Sedikit beruntung, Purwati tidak harus berutang karena masih ada uang duka dari perusahaan tempat almarhum suaminya bekerja. “Tapi uang itu kan untuk biaya hidup sehari-hari dan uang kuliah anak saya, karena belum ada yang kerja. Jadi tidak ada penghasilan sama sekali, ” jelasnya.

Yanti, korban lainnya yang walaupun masih bersuami, tapi pekerjaannya tidak tetap. Dengan profesi sebagai tukang servis AC, praktis penghasilannya tidak tentu.
“Saya perbaiki rumah dari uang angpao waktu Imlek. Tadinya saya berharap janji perbaikan bisa segera dilaksanakan, karena uang angpao itu untuk kebutuhan sehari-hari dan uang sekolah tiga orang anak saya. Di rumah juga ada ibu mertua, jadi ada enam orang yang harus ditanggung suami saya, ” jelas Yanti.

Saat dikonfirmasi ke Agus Wahyudiarto selaku ketua RW 20 menuturkan : “Iya, sangat saya sayangkan. Ibu Camat Medan Satria bilang masih diproses. Semua pihak yang saya hubungi tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, sedangkan warga saya kan bertanya terus. Mereka berharap janji awal akan adanya penggantian bisa segera dibayarkan, karenanya mereka sampai berhutang ke sana ke mari. Kasih kita kepastian, supaya saya juga enak menyampaikan ke warga. Ini sudah lima bulan, belum ada perkembangan yang menggembirakan,’ tutur Agus. (Rini Chan)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *